[Resensi Buku] Laki-laki ke-42 by Athalia Praratya

 

Athalia praratya novel


Judul Buku :  Laki-laki ke-42

Pengarang :  Athalia Praratya

Penerbit : Gramedia

Terbit :  Edisi Digital, 2021

Tebal :  128 halaman

ISBN : 978-602-06-4106-5

Genre buku : novel romantis

Rating : 5⭐

Harga buku : Rp 55.000


Baca ebook di aplikasi Gramedia Digital


❤️❤️❤️


Sinopsis Buku Laki-Laki Ke-42 : 


Sejak remaja hingga menjadi wanita dewasa, Chiara berteman dengan banyak laki-laki. Ada yang jadi teman biasa, ada yang akhirnya jadi sahabat, dan ada beberapa yang berhasil memikat hatinya.


Apakah Angga, yang tak sengaja bertemu saat acara pameran?

Atau Riza, sang vokalis band yang romantis?

Ataukah Samsul, anak Teknik yang pandai mengaji?


Laki-Laki Ke-42 berkisah tentang Chiara yang akhirnya bertemu dengan belahan jiwanya.


Novel ini dituturkan Atalia Praratya dengan gaya penulisan yang lincah, jenaka, tapi juga sarat makna.


❤️❤️❤️


Resensi Buku : 


Chiara sejak remaja sudah disukai banyak cowok, mulai dari yang good boy sampai yang bad boy. Bahkan Chiara juga punya body guard, preman yang sering menitipkan Chiara ke mamang angkot saat berangkat sekolah. 


Mama Chiara memberi nasihat agar Chiara tidak  mudah pacaran dengan cowok manapun. Meskipun banyak yang naksir dan memberikan berbagai perhatian. Jadi, Cia hanya dibolehkan pacaran saat mamanya memberi izin yaitu jika usia Cia sudah masuk 17 tahun.


"Jadi perempuan jangan mau dipegang-pegang. Jangan mau juga sering-sering pergi berdua, nanti turun pasaran. Kan belum tentu juga kalian berjodoh." 


Ijin ini bertepatan dengan penembakan pertama. Saat itu, Chiara dekat dengan seorang cowok bernama Ali. 


Ali cowok yang baik dan pengertian, sayangnya ia juga sangat posesif sampai Cia tidak bisa pergi kemana-mana tanpa minta restu pacarnya. 


Sedangkan saat Cia minta putus, Ali malah mau menyilet nadinya pakai cutter. Sungguh dilematis, kan? 


Cia nggak bisa begitu saja lepas dari hubungan toxic itu. Makin hari, Cia pun mencari cara agar bisa lepas dari Ali. 


Hingga akhirnya Cia justru harus suit dengan Ali untuk menentukan apakah mereka akan balikan atau tidak. 


Kesempatan kedua itu sayangnya hanya berlangsung dalam waktu 9 hari. 


Ali dan Cia resmi putus dan Cia pun mulai banyak yang mendekati lagi. Sejak itu Cia menganggap semua teman cowoknya sama saja, ia lebih suka berteman saja daripada ada klaim pacaran. Lebih seru dan greget. 


"Keseruan punya banyak teman cowok ternyata membuatku menjadi sosok yang unik. Aku akan baik kepada seseorang, bahkan bisa jadi sangat perhatian pula. Tapi kalau temanku tersebut sudah menyatakan cinta, hilang sudah minatku, karena greget dan tantangannya sudah tidak ada. Aku pun akan menjauh. Bye!"


Saat itu, Cia dekat dengan orang lain, namun hanya sebatas teman. Cia kapok pacaran lagi, jadi begitu ada yang sreg, ia memilih untuk serius dan tidak bucin. 


Hanya saja, cowok  yang suka Cia ini, justru jadi pacar terbucinnya. Jadilah Cia pun disuruh berhenti pacaran sama mamanya. 


Sejak itu, Cia lebih fokus pada pengembangan diri dan bekerja paruh waktu. Cia sibuk belajar di kuliah dan tak sempat untuk jatuh cinta lagi. Sampai kemudian datang Kang Angga yang membuat Cia penasaran.


Kang Angga, dosen jurusan Arsitektur ITB kenalan dengan Cia saat ia sedang bekerja sebagai sales di pameran properti. Kang Angga mau nawarin Cia kerjaan yang fleksible sebagai marketing. 


Dengan strategi yang jitu, Kang Angga berhasil dapat nomor telepon dan alamat rumah Cia, bahkan dekat dengan Cia, dan kenal akrab dengan mamanya. 


Jika cowok lain datang ke rumah untuk cari perhatian Cia, Kang Angga malah masuk ke dapur biar bisa ngobrol santai sama mama Cia. 


Sampai kemudian Cia sudah makin dekat dengan Kang Angga, namun apakah benar kedekatan mereka akan berlangsung hingga ke jenjang yang lebih serius? Ataukah mereka hanya teman dekat saja?


Silahkan baca kelanjutannya di novel Laki-laki ke-42 ini ya! 


❤️❤️❤️


Menurut saya : 


Novel Laki-laki ke-42 ini adalah kisah cinta Athalia Praratya dan Ridwan Kamil. Novel karya bu Athalia -atau yang biasa disapa Teh Cinta- ini ditulis dalam rangka perayaan ulang tahun pernikahan ke 24. 

Saat mereka berkenalan, Teh Cinta justru dekat dengan laki-laki lain, bahkan ia sering menuliskan nama siapa saja cowok yang menyatakan cinta padanya. 

Awalnya ia bingung krnapa banyak orang yang suka padanya dan menyatakan cinta. Sedangkan Teh Cinta tidak sedang ingin pacaran. Jadi ia hanya menuliskan nama-nama itu di diarynya sekadar memenuhi saran mamanya untuk menuliskan nama orang yang dekat dengannya.

Jatuh cinta tak sesederhana masak nasi goreng yang tinggal digoreng trus langsung jadi. Rasa cinta ada karena terbiasa dan sudah nyaman.

Ada rasa tidak nyaman karena yang mendekati sangat banyak. Jadi desas-desus soal siapa yang didekati Cia selalu saja update di kalangan cowok-cowok kampusnya.

Sejak putus karena gaya pacaran yang sangat bucin, Cia jadi jaga jarak dengan cowok. Inilah yang membuat tanpa sadar Cia menjaga jarak tapi juga tak mau kehilangan fans. 

Kelihatannya menyebalkan ya, soalnya Cia tahu siapa yang memberinya perhatian lebih, tapi dia justru bersikap seperti tidak ada yang terjadi.

Kehadiran sosok Kang Angga justru membuat Cia jadi mempertanyakan kedekatannya. 

Apakah hanya sahabat, teman dekat atau lebih dari itu? Tapi kenapa Kang Angga juga dekat dan memberi perhatian yang sama pada orang lain?  

Kasus jatuh cinta seperti yang dialami Cia pada teman sekolah atau kuliah itu bikin saya jadi bertanya-tanya, apa hanya laki-laki yang boleh tebar pesona (selayaknya laki-laki yang banyak digandrungi perempuan)? Gimana kalo yang tebar pesona justru perempuan seperti Cia? 

Bagaimana jika yang dicintai itu justru gadis pujaan kampus yang sangat disegani?

Kalau dalam dunia modern seperti sekarang pasti Cia dianggap tebar pesona deh. Karena tahu dia disukai orang tapi tetep tarik ulur dan jaga jarak aman dengan para fans. Fansnya pun masih boleh main dan ngasih hadiah dan perhatian kecil. Haha 😂

Anyway, saya pernah kenal dengan orang seperti Cia. Memang cewek seperti Cia yang supel dan ramah pada orang lain akan mudah untuk dicintai dan diberi perhatian. Tapi ya hanya sebatas itu saja. 

Laki-laki ke-42 itu maksudnya Kang Angga yang akhirnya mendapatkan nomor urut di diary Cia. 😆

Sungguh ngakak kalau inget kejadian itu. Pas Kang Angga masuk ke kamar buat ambil pulpen tapi malah nemu catatan nama semua laki-laki yang menyatakan cinta ke Cia. Wkekeke. Ada-ada aja. Haha 🤣

Pas mama Cia bilang, harusnya Cia nyari jodoh yang lebih tua karena dia suka ngejago alias suka mendominasi laki-laki. Sedangkan kalau lebih tua, Cia jadi lebih bisa direm dan dimanja juga. 

Ya bener juga sih ya. 😂

Saya juga mikir kalau ada cewek yang sifatnya dominan harusnya  mendapat pendamping yaitu laki-laki yang lebih tinggi ilmu dan segalanya. Istilahnya lebih ngemong, kalau dalam bahasa Jawa. 

Dengan Kang Angga, Cia mendapatkan segalanya. Perhatian, cinta, ilmu, dan saling melengkapi. 

Yang bikin saya trenyuh waktu Kang Angga bilang, saya nggak punya apa-apa, tapi mau mengajak Teteh melihat dunia.

Duh, so sweet banget. Haha

Teh Cinta memang layak dicintai karena sikapnya yang santun dan ramah pada semua orang.  Keramahan ini bisa dianggap memberi perhatian lebih, padahal sebenarnya ya hanya baik aja. 

So... jangan baper wahai kaum Adam kalau ada cewek ngasih perhatian. Wekeke. 

Bisa aja kamu hanya satu dari sekian puluh orang yang memberinya perhatian. Nah lho~ Hahaha 😂

Anyway, saya suka cara Teh Cinta nulis novel ini. Kelihatan banget kalau Teh Cinta senang baca dan nulis. Soalnya alurnya terstruktur dan diksinya juga bagus. Bahkan bisa bikin ngakak. Ya, guyonnya pas gitu, nggak garing gimana gitu. 😁


Saya juga suka dengan detail informasi yang disajikan di mana pembaca bisa tahu latar waktu dan tempat yang ditulis dalam novel ini, plus lengkap dengan segala sesuatu yang ngehype di masanya. Seperti adanya teknologi pager, nyatain cinta lewat surat, ngobrol lewat telepon umum, bahkan ada geng motor di Bandung juga. 

Saya jadi bayangin tokoh Cia ini mirip Milea di novel Dilan karya Pidi Baiq. Ia mudah dicintai sekaligus disayangi, tapi masih polos dan gaya pacarannya juga masih kategori aman. Paling ngajak nonton film atau makan di luar. Ya, standar anak muda jaman dulu. Hehe

Justru kehadiran Mama Cia jadi penentu di novel ini karena gimana pun, Cia bukan gadis yang bisa didekati semaunya. Cia selalu menuruti apa kata orang tuanya, termasuk bagaimana memperlakukan sahabat dan teman yang dekat. 

Jadi, saya mengambil kesimpulan kalau meskipun nolak orang, ya harus santun. Nggak yang ngegas gimana gitu. Buktinya Cia masih disegani meskipun teman laki-lakinya tahu ya hanya sejarak itu mereka bisa berinteraksi dan melihat kehidupan Cia.

Overall,  saya menikmati sekali cara Teh Cinta berkisah dan melontarkan candaan di novel ini. Nggak terasa waktu baca novel ini eh udah langsung slese. Hehe. Rating : 5 bintang untuk novel Laki-laki ke-42. Nah, selamat membaca! 😍

❤️❤️❤️


Komentar

Postingan Populer