Tuesday, 28 December 2021

Menelusuri Sejarah Pakaian di Jawa Masa Penjajahan Belanda

 

Penjajahan Belanda sudah lama terjadi di Indonesia, hingga akhirnya Indonesia merdeka. Di masa penjajahan tersebut, budaya berpakaian laki-laki dan perempuan Jawa atau Pribumi pun mencirikan sesuatu yang membedakan strata sosial pemakainya. 


Menelusuri Sejarah Pakaian di Jawa Masa Penjajahan Belanda


Saat ini, budaya Jawa sudah mulai jarang dilirik oleh anak muda. Padahal budaya Jawa juga tidak kalah bagusnya dengan budaya negara lainnya. 


Jika kita menelusuri sejarah pakaian di jaman penjajahan, banyak yang bisa kita lihat. Salah satunya adalah perbedaan cara berpakaian laki-laki dan perempuan, juga perbedaan penggunaan bahan pakaian yang menunjukkan dari mana strata sosial mereka berasal. 


Sebagian besar orang Jawa masuk ke dalam golongan pribumi alias orang biasa, sedangkan kaum priyayi memilih untuk tinggal dalam keraton dan rumah gedong mereka. 


Nah... Itu sebabnya, saat mereka keluar rumah tampak jelas perbedaan status sosial tersebut dari pemilihan bahan pakaian dan cara mereka berdandan. 


Mari simak apa saja perbedaaanya ya! 


❤️❤️❤️

3 Jenis Pakaian di Jawa Masa Penjajahan Belanda:


1. Pakaian Adat yang Dipakai Laki-laki Jawa Zaman Penjajahan


Di zaman penjajahan dulu, laki-laki dan perempuan Jawa masih memperhatikan pakaian yang mereka kenakan karena akan mempengaruhi pendapat orang tentang citra diri dan kedudukan mereka di masyarakat. 


Dalam budaya Jawa, laki-laki menggunakan kain panjang atau sarung,  batik untuk kelas menengah ke atas dan lurik untuk kelas menengah ke bawah. 


Sebagai busana atasan, laki-laki menggunakan pakaian yang disebut baju. Yang panjangnya lebih pendek dibanding kebaya perempuan. 


Laki-laki jawa  yang berstatus ningrat juga menggunakan pakaian adat bernama dhodotan dan kuluk(topi laki-laki). 


Para lelaki Jawa yang berada di strata sosial yang tinggi juga sering mengenakan ukup dan epek timang sebagai ikat pinggang dan tempat menyelipkan keris.


Untuk pakaian modern, mereka menggunakan celana, peci, dan celana monyet untuk anak-anak. 


Baju pernikahan  pegantin adat khas jawa

2. Baju Kebaya Perempuan Jawa Tempo Dulu


Pakaian yang dipakai perempuan Jawa umumnya menggunakan kebaya yang disertai dengan selendang, kemben dan berbagai perhiasan. 


Kata kebaya dipinjam dari kata Portugis Cabaia yang berarti semacam kain sutra. Sedangkan, kata Cabaia sendiri berasal dari  kata bahasa Arab ; qaba yang artinya kain. 


Dhodhot adalah kain kemben yang panjang dan lebar yang dipakaikan saat memakai busana basahan untuk pernikahan dan acara penting lainnya.


Sedangkan kain kemben untuk perempuan berfungsi untuk menutupi dada dan memiliki warna yang sama dengan kain kemben untuk pasangannya.


Ada juga selendang yang digunakan perempuan jawa. Selendang adalah kain berukuran kira-kira 150 x 50 cm yang digunakan oleh kalangan kelas menengah ke bawah sebagai aksesoris dan untuk membawa barang.


Dalam selendang, diselipkan uang dan barang karena umumnya mereka tidak membawa tas.


Selain itu, uang juga dapat disimpan di kantong kebaya oleh perempuan, karena zaman dulu belum banyak orang pribumi yang menggunakan tas untuk bepergian.


Untuk perempuan Jawa, mereka mengenakan pakaian dengan kain panjang juga, seperti lurik dan batik, namun hanya untuk busana bagian bawah. 


3. Ikat Kepala Laki-laki khas Jawa untuk Menandakan Strata Sosial Pemiliknya


Laki-laki Jawa dulu selalu mengunakan ikat kepala sejak masih muda.  Tujuan penggunaan penutup kepala untuk laki-laki pribumi asli Jawa bermakna sebagai pelindung jiwa. 


Sedangkan perempuan tidak memakai ikat kepala. Konon, ikat kepala juga menunjukkan strata sosial pemakaianya. 


Nah, sudah tahu kan apa saja perbedaannya? Semoga tulisan ini bermanfaat ya! 


❤️❤️❤️


Sumber : buku Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe karya Olivier Johannes Raap.



3 Inspirasi Model Baju Batik untuk Perempuan

 


Inilah 3 Inspirasi Model Baju Batik Untuk Perempuan

Mengoleksi kain batik bagi sebagian besar orang adalah sebuah keasyikan tersendiri. Mulai dari memilah jenis kain, menyentuhnya dengan jemari tangan, berburu langsung di penjual batik, mencari padu padan warna, dan menentukan model baju batik favorit. Inspirasi model baju batik untuk perempuan ada banyak macamnya. Dari berbagai jenis model baju yang ada saat ini, kamu bisa memilih yang sesuai dengan kebutuhanmu.

Saturday, 18 December 2021

Perkembangan Film Indonesia dan Bioskop Nasional Indonesia

 

Bioskop nasional indonesia


Sebuah tweet di twitter mempertanyakan mengapa industri film kita sangat sulit memberi ruang bagi film Indonesia untuk berkembang.


Cuitannya seperti ini : 


Kampanye "ayo ke bioskop, untuk memulihkan perfilman Indonesia". Lalu, Spiderman datang menggusur kuota layar Yuni dan Seperti Dendam.... Kalau memasalahkan ini lagi, lantas dibilang naif. Gak ngerti gimana industri bekerja. 


Pret.


@hikmatdarmawan 


🌷🌷🌷


Apakah benar industri film Indonesia tidak bisa berkembang sebagaimana industri film India dan Amerika? 


Jawabannya : belum tentu. Industri film Indonesia bisa berkembang pesat, ssperti di Korea, India bahkan Amerika. Tapi tergantung mau atau tidak untuk melakukannya, dan ini butuh kerja keras bersama dari pemerintah, pengusaha, investor, komunitas film, actor dan film maker sendiri. 


🌷🌷🌷


Mengingat Era Kejayaan Bioskop Tempo Dulu


Dulu sekali, waktu era film di bioskop jadul masih merajai, kita dengan senang hati datang ke bioskop, berapapun harga tiketnya. Nonton film selayaknya menikmati kehidupan. Semua orang baik muda maupun tua tumpah ruah datang menonton film di bioskop. 


Saya pernah merasakan betapa ngehype-nya bioskop zaman dulu. Waktu SMP ada teman mengajak saya untuk nonton film India (Bollywood) berjudul Mohabbatein.


Ya... Film India inilah yang bikin saya merasa senang sekali bisa datang ke bioskop kala itu. Selain kualitas filmnya, sound bioskop juga membuat kesan nonton film musical ala India ini jadi teringat sampai sekarang. 


Membuka Ruang Lebih Banyak untuk Menonton dan Berdiskusi Tentang Film Indonesia


Film Indonesia sebenarnya tidak kehilangan peminatnya. Hanya saja, tidak ada ruang untuk memberi keringanan biaya bagi penikmat film yang termasuk golongan orang tak mampu. 


Sejak kebutuhan pokok kian mahal karena inflasi, menonton film jadi terasa mahal bagi sebagian orang.


Sebelum pandemi, sebetulnya film Indonesia semakin menggeliat. Namun, begitu pandemi melanda dunia, industri film dan bioskop kewalahan menghadapi masalah ini.


Ya... Mulai dari susahnya distribusi film di bioskop karena bioskop ditutup, ijin membuat film yang terbatas karena protokol kesehatan, biaya yang besar saat membuat film, dsb.


Akhirnya sebagian besar film maker memilih membuat film untuk diikutsertakan dalam festival film luar negeri, bahkan film yang sudah selesai pembuatannya pun memilih untuk menunggu bioskop dibuka kembali. Daripada rugi modal, kan?



Ya, ada juga yang memilih menayangkannya di platform streaming film online, seperti film Penyalin Cahaya di Netflix saat Januari 2022 nanti.



Penonton film Indonesia sebenarnya sangat banyak dan potensial. Tengoklah penonton sinetron Indonesia yang sangat banyak, bahkan hampir setiap kali saya ke pasar atau belanja di warung, ada saja ibu-ibu yang menonton sinetron di smartphonenya dan memperbincangkannya bersama teman. Misalnya : sinetron Ikatan Cinta yang tayang hingga ribuan episode, maupun web series Layangan Putus yang bikin fans Reza Rahadian gregetan. 😂



Mereka yang menonton sinetron juga sebetulnya lelah dijejali dengan cerita yang itu-itu saja. Ingin menonton film atau series bagus, harus langganan streaming legal. Sementara harganya juga tidak murah.


Film Indonesia masih memiliki peminat, terbukti dengan banyaknya online streaming yang kini mulai membuat web series ala Indonesia di WeTV, Viu Original di VIU, atau serial/film Indonesia di Netflix.


Di twitter dalam beberapa tahun terakhir juga muncul akun-akun twitter bertema movie fanbase yang membahas tentang serba-serbi dunia perfilman, baik film Indonesia maupun film luar negeri. 


Saat sebuah film muncul di bioskop, akun-akun fanbase ramai dibanjiri postingan tentang film yang sedang tayang. Ini membuat film ngehype dan banyak penonton baru yang berbondong-bondng ingin ikut menikmati cerita film tersebut di bioskop.


Sayangnya, saat sebuah film tayang, ia juga harus berebut slot layar bioskop dengan film populer lain yang lebih banyak penontonnya. 


Itulah sebabnya, banyak film Indonesia yang sudah mendapat penghargaan sekalipun harus legowo dan memilih mengambil jatah slot layar bioskop yang tersisa, atau bahkan kemudian menayangkan filmnya di platform streaming online saat film sudah turun layar dari bioskop. 


Hal ini, tentu saja juga membuat film tersebut rawan dibajak oleh streaming ilegal, bahkan ada juga yang menonton film Indonesia di link haram grup telegram. 


Apakah film Indonesia juga dinikmati kalangan menengah ke bawah?



Pertanyaannya sekarang adalah apakah industri film sekarang juga mudah dinikmati oleh penonton di kalangan menengah ke bawah? 


Menonton film di bioskop termasuk dalam kategori leisure dan termasuk kebutuhan tersier, bukan kebutuhan pokok. Banyak orang miskin yang lebih memilih mencukupi kebutuhan hidupnya, dan tidak sempat menonton film di bioskop. 


Tapi kalau ingat adegan film Sang Pemimpi saat Ikal dan kawan-kawannya menonton film di bioskop jadul dengan mengendap-endap, saya jadi paham kenapa dulu film Indonesia sangat berkembang pesat dulu. 


Di era dulu, bioskop lokal sangat berkembang pesat. Anak-anak sekolah bahkan tertarik menonton, sayang pilihan filmnya sangat terbatas. Genre film kebanyakan film yang ditayangkan untuk usia orang dewasa, bukan anak-anak apalagi remaja. 


Apakah harga tiket bioskop reguler sepadan dengan kualitas film dan layanan bioskopnya?


Ya, semakin bagus sebuah bioskop, semakin mahal harga tiket yang harus dibayar penontonnya. Sekarang eranya nonton bioskop sambil rebahan di bioskop. Ada kategori tiket luxury yang kursinya bisa buat selonjoran, bahkan bioskop juga menyediakan kursi khusus penonton couple juga.


Tapi tahu nggak sih, bagi kalangan menengah ke bawah, uang 35-50 rb per orang untuk setiap film yang ditonton sangat mahal.


Ya... Uang sebesar itu bisa mengganjal perut mereka untuk membeli makan sehari-hari.


Berbeda dengan kalangan menengah ke atas yang sangat loyal untuk membeli tiket nonton yang setara uang jajan es kopi susu mereka.


Pernah suatu hari, ada bioskop CGV di kotaku yang menawarkan program nonton murah seharga 10 rb/tiket. Nontonnya di mana? Di bawah layar banget, pakai kursi biasa atau bisa juga lesehan. Benar-benar terobosan baru.😂


Well ya… Meskipun yang seperti ini hanya dilakukan sesekali alias cuma tes pasar, saya rasa mereka paham bahwa banyak kok orang yang sebenarnya minat menonton tapi terbentur biaya. 


Pengalaman Nonton Bioskop ala Layar Tancap di Desa Terpencil Kendal


Selain itu, pernah juga saya ikut acara baksos di sebuah desa terpencil, dekat perbatasan Kendal-Semarang. Saya lupa nama daerahnya apa. 


Dulu banget waktu itu, panitia acara bikin event buat keakraban yaitu dengan nanggap layar tancep alias nonton bioskop di lapangan, pakai proyektor sambil lesehan rame-rame.



Oiya... Bahkan ada penonton yang nonton di atas batu atau bahkan bawa kursi plastik dari rumah. Bener-bener bikin pengalaman menonton jadi seru. Kami nonton film Indonesia : Nagabonar jadi 2. 😁


Mengingat pengalaman nonton film Indonesia yang seperti itu, saya jadi tahu kenapa ada penonton yang rela menabung untuk bisa nonton di bioskop. 


Ya, karena mereka pengin juga nonton di bioskop, dengan sound yang wah. Tapi terkendala biaya saja. Apalagi bagi daerah terpencil yang jauh dari mana-mana. 


Boro-boro deh di daerahnya ada bioskop lokal yang murah, bioskop jaringan nasional yang prestise saja belum tentu ada. Yang ada malah orang harus kabur ke kota sebelah buat nonton film favorit di bioskop.


Misalnya saja : teman saya Nyi Penengah yang bilang di Pemalang nggak ada bioskop, jadi kalau mau nonton ya di bioskop Pekalongan atau Semarang.  


Pernah juga waktu banyak remaja pada ngehype film Dilan. Bioskop lokal di kota saya yang bernama Gajah Mada Cinema saja sampe penuh dengan anak-anak remaja. 




Industri Film Indonesia : Antara Idealisme dan Kebutuhan Pasar Perfilman 



Bisa dibilang Indonesia sudah pernah mendapatkan kegemilangan saat era film lokal berjaya di negeri sendiri. Saat dulu, orang senang menonton di bioskop baik di hari libur maupun hari biasa. Menonton jadi hiburan dengan keluarga, kerabat dan teman sekolah.


Kini, jika menilik hal itu, sebetulnya industri film Indonesia juga bisa berjaya kembali. Bukan hanya tentang kualitas film Indonesia saja yang harus dikembangkan, namun juga jumlah penonton film bisa diperoleh dengan cara mendistribusikan film dengan baik.


Well ya... Bisa melalui jaringan bioskop nasional yang sudah punya nama, bioskop lokal, maupun platform online streaming, maupun road show launching film saat film tayang.


Penjualan merchandise juga bisa dikembangkan kembali untuk menarik minat penonton agar bisa mengoleksinya.




Harga Tiket Bioskop yang Lebih Terjangkau untuk Semua Kalangan Penonton Film



Indonesia nggak kekurangan penonton kok. Kalau para remajanya juga masih suka dan amat sangat hobi menonton film, baik film Indonesia maupun film garapan luar negeri. Masalahnya adalah biaya tiket itu setara uang jajan mereka. Jadi, mereka harus hemat banget. 


Di Gajah Mada Cinema Tegal, harga tiket bioskop masih terbilang murah. Harganya 25 rb/orang. 


Coba bandingkan dengan tiket di CGV atau Cinepolis yang bisa sampai 35-50 rb untuk reguler. Wow, bedanya cukup besar ya. 


Dulu waktu zaman kuliah, teman saya sering ngajak nonton film. Tentu saja tidak di bioskop alias download film ilegal. Tapi yang bikin saya terdiam adalah kenyataan bahwa banyak orang butuh hiburan di tengah aktivitasnya.dan menonton film beramai-ramai itu sebenarnya menjalin keakraban dengan teman lain. Jadi bisa diskusi tentang film. 


Kesimpulan : 


So, ya kalau mau industri film Indonesia berkembang, cobalah bikin bioskop lokal yang lebih murah, seperti yang dilakukan seorang pengusaha di Tegal dengan membuat bioskop sendiri di kotanya. Bukan bioskop dengan jaringan nasional yang sudah dikenal. Bioskop ini justru jadi alternatif nonton film murah yang bisa digunakan penonton kalangan menengah ke bawah. 


Btw, Gajah Mada Cinema juga merupakan bioskop pertama setelah Tegal vakum alias nggak punya bioskop setelah puluhan tahun bioskopnya pada gulung tikar. Baru setelah ada Gajah Mada Cinema, investor masuk ke Tegal dan membuat 2 bioskop yaitu Cinepolis dan CGV. 


So, ya perbanyak saja ruang-ruang untuk mendiskusikan film Indonesia baik di club film, kelompok teater, bikin bioskop.lokal yang lebih murah, atau akses platform online dengan biaya langganan yang lebih terjangkau. Niscaya orang akan lebih senang mengakses film yang legal dibanding ilegal. 



🌷🌷🌷