[Review Film Remaja Indonesia] Rompis : Sebuah Roman Picisan

 


Review Film Rompis : Sebuah Roman Picisan

 

Tayang perdana tahun 2018

Durasi film : 1 jam 39 menit

Pemain film : Arbani Yasiz, Adinda Azani, Umay Shahab, Cut Beby Tshabina

Sutradara : Monty Tiwa

Rating : 8/10 bintang 

Nonton di Netflix

 

Sinopsis Film :

Setelah seorang mahasiswa kuliah di kampus luar negeri, persahabatan baru menciptakan jarak antara dirinya dengan sang pacar yang risau di negara asal.

 

Review Film :

 

Hai teman-teman... Udah lama ya saya nggak ngereview film remaja. Kali ini saya bakalan bahas tentang film Rompis yang tayang perdana di tahun 2018. Jujur nih, banyak wajah baru yang saya kenal, jadi surprise juga ternyata ada regenerasi di film-film remaja biar para actornya nggak dia lagi dia lagi. Hehe.                                                                                                                                                            


Nah, film Rompis mengisahkan tentang kisah cinta segitiga antara Roman, Wulandari dan Meira. Awalnya, Roman dan Wulan saling jatuh cinta saat SMA. Setelah dua tahun saling dekat, Roman tak kunjung menyatakan cintanya. Ia malah memilih untuk kuliah di Belanda, jauh dari keluarga dan kekasihnya.

 

Wulan sempat khawatir kalau nanti hubungannya dengan Roman akan berakhir. Tapi, Roman bilang begini

 

“Belanda belum cukup jauh untuk bikin lo hilang dari ingatan gue.”

 

Saat mendaftar seleksi untuk kuliah di Belanda, Roman dan Sam, sahabatnya hanya iseng saja. Eh, ternyata mereka terpilih dan akhirnya melanjutkan kuliah di Belanda. Meskipun keduanya kuliah di Belanda, tapi jurusan kuliah dan kota tempat tinggalnya pun beda. Roman tinggal di kota Wageningen, sedangkan Sam di kota lain.

 

 

Jarak memisahkan Roman dengan Wulan. Meskipun rindu, tapi Roman sangat jarang bilang rindu atau menghubungi Wulan. Hari-harinya disibukkan dengan tugas kuliah yang sangat membuatnya stress. Ya, karena Roman sering tertinggal jauh dari teman sekelasnya. Nilainya jeblok. Bahkan ia ditegur oleh dosennya karena ia mendapatkan nilai di bawah rata-rata kelas.

 

Roman yang sangat bucin, sebenarnya kepikiran dengan Wulan. Gimana rasanya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya? Ya, namanya asmara lintas negara, jadi ya Wulan agak kesulitan menghubungi Roman. Apalagi beda waktu juga. Di Belanda siang, di Indonesia udah malem. Beda jauh banget, kan?

 

Perbedaan waktu itu juga yang bikin Roman dan Wulan jarang bisa komunikasi intens. Apalagi waktu Wulan sedang ngajak videocall, eh ternyata Roman malah mau ketemuan dengan dosennya buat benerin nilai. Ya, lagi-lagi banyak kendala yang membuat hubungan mereka tidak semulus saat masih SMA.

 

Yang bikin ribet adalah... Wulan galau banget karena muncul satu gadis yang diceritakan oleh Roman. Katanya, gadis itu teman barunya di kampus. Meira, nama gadis itu bikin Wulan jadi makin insecure. Apalagi status hubungan Roman dan Wulan sebenarnya belum diresmikan alias nggak ada kata cinta atau jadian di antara mereka berdua. See? Wulan khawatir kalau Roman jatuh cinta dengan gadis itu. Makanya, tiba-tiba dia beli tiket ke Belanda buat nyusulin Roman.

 

Wow, di sinilah masalah terjadi. Di satu sisi, Roman harus berurusan dengan Meira karena nilai mata kuliahnya harus diperbaiki dengan bantuan gadis itu, sedangkan di sisi lain Wulan yang sangat bucin justru nyusul ke Belanda. Wulan tinggal di Belanda selama seminggu.

 

Selama seminggu itu, Roman dipusingkan dengan prioritasnya. Mana yang harus dikerjakan dulu? Apakah harus bertemu Meira? Apakah harus memenuhi janji kencan dengan Wulan? Apakah liburan bareng Wulan di Belanda, atau malah harus sibuk dengan tugas mata kuliahnya yang terancam mendapat nilai jelek? Prioritas Roman makin terpecah saat Wulan justru cemburu dan ngambek yang berujung pada masalah baru ; Meira nyasar dan hampir dikerjain oleh bule Belanda.

 

Di saat itulah, Wulan sadar bahwa dunia sangat tak berpihak padanya. Ia bingung bagaimana harus membuat dirinya yakin bahwa Roman adalah cinta yang patut untuk diperjuangkan. Sedangkan Roman masih sibuk dengan kuliah dan urusannya dengan Meira.

 

Lalu, bagaimana akhir kisah cinta ketiganya? Tonton film Rompis di Netflix ya.

 

🌼🌼🌼




Awal nonton film Rompis, saya dikejutkan dengan puisi-puisi yang hadir dalam film ini. Jujur, ini mengingatkan saya dengan vibes puisi Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta 1. Roman ibarat Rangga dalam versi lebih supel dan lebih matre.


Ya, Roman ini anak orang biasa, dari kalangan biasa. Makanya dia memanfaatkan kecerdasannya untuk membuat puisi yang bisa dijual pada teman-temannya. Lumayan kan? Nulis puisi trus bisa jadi duit. Makanya, Roman itu termasuk anak yang bertalenta, namun juga kesulitan soal biaya hidup.

 

Di satu sisi, Roman ini romantis, tapi di sisi lain, dia juga sangat bucin. Soal bucinnya ini yang bikin saya geleng-geleng sih. Masih sempet-sempetnya ya ngurusin cinta di saat harusnya dia sibuk ngurusin nilainya yang amburadul dan perlu diremidi.

 

Roman ini bucinnya parah sih, plus ditambah cewek yang disukainya juga sama bucinnya. Wkwk. Makanya pas ada adegan Wulan nyusul ke Belanda cuma karena gadis itu galau sama urusan cintanya, saya heran soal ini. Wkwk.

 

Gimana ya?

 

Soalnya sebucin-bucinnya orang, kalau nggak ada duit ya ujung-ujungnya cuma berharap bisa satu kota lagi dengan pujaan hati. Masalahnya, level galaunya Wulan ini beda. Level sultan gitu lho ya. Makanya pas abis galau gitu dia langsung beli tiket buat terbang ke Belanda. Lol

 

Seberapa bucin lo sama pasangan lo? Wuiih, kalah dah ama bocil yang baru masuk kuliah. ;)))

 

Pas adegan Wulan nyusul ke belanda itu saya jadi mikir, astaga... galaunya sultan beda level banget ya sama sobat miskin. Haha. Ada adegan yang aneh sih, Wulan ini tahu-tahu nyampe aja di kampus Roman. Padahal dia baru bilang pengin ke Belanda malem sebelumnya. Wew... emangnya Wulan sekaya apa sampe nggak perlu ngurus visa buat ke Belanda. Pake jalur visa ala jin punya Aladdin apa gimana nih? Hahaha

 

Soal visa Belanda itu salah satu alur cerita yang rada nggak logis. Selain itu ada juga adegan pas ngejar-ngejar Wulan ke bandara. Gimana caranya mereka bisa cepet nyampe bandara padahal ngejarnya make sepeda, mana boncengannya berdua pula. Wkwk.

 

Yang bikin saya suka film ini karena tema cinta picisan justru punya sudut pandang yang lain. Kisah Roman dan Wulan ini the next another level of love deh. Saking cintanya Roman sama Wulan, dia memprioritaskan semua hal di atas rasa cintanya ke Wulan. Jarang-jarang kan yang cinta tapi masih mikir soal gimana ngaruhnya ke kuliah nanti. :D

 

Plus obrolan Roman, Wulan dan Meira ini bikin saya nyadar kalo soal cinta segitiga masih bisa dibicarakan.  Jadi, nggak ada lagi ceritanya main kucing-kucingan atau malah nutupin kalau lagi deket sama orang lain. Sahabat perlu juga dekat dengan pasangan kita, begitu pun sebaliknya. Biar sama-sama kenal dan tahu kedudukannya masing-masing.

 

Plus... saya seneng banget sama karakter Sam yang sering dipanggil Sampret alias Sam Kampret. Ya, tokoh Sam ini jadi penengah pas ada masalah antara Wulan dan Roman. Dia juga bantuin kasi saran dan sering banget diskusi dengan Roman buat nyelesein masalahnya. 


Nah, yang serunya lagi, guyonannya Sam dan Roman emang rada-rasa satir dan ala ngejek-ngejek sih. Tapi di sisi lain, Meira justru mengingatkan soal guyonan yang nggak sehat itu. Ya, namanya sahabat emang kadang guyonnya di ambang batas ya. Wkwk. Udah nggak pake jaim dan baper-baperan lagi deh. :p

 

Overall, film Rompis ini unik sih, hehe. Bikin saya jadi mikir, ternyata dunia remaja begitu kompleks ya. Sangat membuat mata saya terbuka untuk melihat lagi dunia remaja dengan segala pernak pernik masalahnya, plus belajar gimana cara mengatasi masalah yang muncul.

 

Oh iya, ini kata-kata Wulan yang bikin saya suka dengan karakternya. Tipikal anak cerdas, tapi ya bucin. Haha.

 

“Itu tadi adalah sebuah puisi yang saya dapat dua tahun lalu. Berkat puisi tadi saya sadar sudah terlalu lama kita menunduk. Kita dikenal sebagai generai menunduk. Generasi micin, generasi gadget. Atau apalah itu. Tapi hari ini, angkat kepala kita. Tatap sombong, pekik lantang pada bulan di atas sana. Mereka bilang kita masih muda. Tapi yang tua belum tentu dewasa. Dewasa itu proses. Keluar dari gerbang hari ini adalah proses. Gagal, sukses, jatuh, bangun adalah proses. Dan ingat... saya cinta kalian semua.”

 

 

Dan inilah bait-bait puisi yang sesekali dibacakan oleh Roman, puisi yang membuat film Rompis menjadi lebih menarik. ;)

 

/1/

Kehilangan bukanlah akhir rupanya.

Kepergian bukanlah pemisah, rupanya

Dan kutantang sang waktu

Datanglah

Datang dengan bala tentara pedihmu

Aku tidak takut

Karena kepada cinta aku bersujud

 

/2/

Rindu itu sunyi, tak ada bunyi

 

/3/

Aku lebih memilih malam, meski kelam

Aku lebih memilih luka, meski sakit

Dan aku telah memilih kamu, meski rindu

 

/4/

Inikah bahasa cinta, bahasa jiwa

Bahasa bahagia

Yang tak berkata

Sungguh, cinta tanpa tindakan

seperti matahari tanpa rembulan

Seperti Roman tanpa Wulan

Perjalanan tanpa tujuan.

Komentar

Postingan Populer