Langsung ke konten utama

Menapaki Jalan Sunyi

Saya kira hanya ada drama di televisi, tapi nyatanya ada pula drama di kehidupan nyata. Bukan, ini bukan soal cinta atau semacamnya, tapi soal pekerjaan. Dulu saya sering denger cerita dari ibu soal drama di kantornya, tapi sekarang waktu ngalami sendiri apa yang ada, jadi mikir. Perempuan kok kebanyakan drama. Hal-hal kecil bisa jadi semakin besar ketika dianggap luka. Padahal, saya kira itu bukan soal gimana hal itu bisa terjadi, tapi ya, mba... bisakah menepikan perasaan sedikit saja? Nggak perlu semuanya dimasukkan ke dalam hati.

Meski jujur aja, saya lebih suka nulis karena memang mau nulis. Bukan karena ada apa-apanya. Tapi seiring waktu banyak drama yang berhubungan dengan ini. Kadang lelah ya. Nggak semuanya seiya sekata soal tujuan menulis. Lagi-lagi balik ke tujuan awal. Kamu nulis itu buat apa sih, mba? Kalau mau tenar, populer, inget-inget lagi. Tujuan awal menulis adalah meninggalkan jejak ingatan tentang sesuatu. Kalau itu ilmu, saya akan mengikatnya dengan menulis karena sulit bagi saya mengingat banyak hal dalam satu waktu. Apalagi waktu yang terlampau lama.

Bagaimana semuanya bisa saya ingat dengan jernih jika ada banyak urusan lain yang juga harus diselesaikan. Itu tujuan saya menulis. Jadi bukan hanya sekadar uang, popularitas saja. Dan sejujurnya saya lebih suka menapaki jalan sunyi, jauh dari hingar bingar drama di setiap komunitas yang ada. Selama ini saya dengar dari teman ini dan itu, tapi saya pikir hanya oh, paling di satu komunitas aja. Nyatanya ternyata ada yang jauh lebih drama. :)) Well, saya nggak bisa menyenangkan banyak pihak, dan toh... semua rezeki sudah ada yang atur, jadi nggak perlu saling sikut hanya untuk urusan dunia. Ini salah satu alasan kenapa saya udah jarang ikutan lomba blog. Cuma ngerasa lelah dengan pertarungan sengit yang terjadi antara satu orang dengan yang lain. 

Yang saya ingat hanya satu. Jadilah sebaik-baik dirimu sendiri, nggak perlu berpatokan pada pencapaian atau rezeki orang lain karena rezeki nggak akan pernah tertukar. :)

“Penulis harus secukupnya saja menyesali kegagalan atau mensyukuri kesuksesan. Ia tidak boleh terjerat oleh sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas satu sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas satu sukses atau menangis pilu karena suatu kegagalan akan menyebabkan ia kerdil. Pikiran dan jiwa tidak lagi merdeka tanpa beban sehingga kemurnian jiwa sukar lagi didapatkan. Pada hakikatnya, seorang penulis harus memahami bahwa nama itu kosong dan ketenaran itu hampa, hanya jalan hidup yang nyata.”(WS Rendra)

Komentar

  1. Akhirnya ... dikau merasakan hal yang sama. :D Heheheee.

    Sebenernya ya, menurutku, komunitas penulis/blogger yang ada malah kadang ngebikin kita gak bisa jadi diri kita. Memang banyak pelajaran yang didapat di sana. Tapi juga kadang ada hal yang malah bisa membuat lelah sekali. Misalnya aja debat, sindir-sindiran, atau apalah.

    Lebih dua tahun lalu aku nge-delete akun FB dengan harapan bisa nge-restart hidup dan tujuan menulis. Udah dipikirkan juga matang-matang. Salah satu alasan besarnya termasuk karena itu akun--entah kenapa--selalu ada usaha orang buat nge-hack.

    Hidup juga udah mulai gak terarah waktu itu. Jadi semacam; ke mana arah komunitas, ke situ aku condong. Padahal belum tentu apa yang komunitas mau, aku mau juga. Belum lagi ada komunitas yang mulai bikin pelatihan berbayar. Ini gak apa-apa sih, sebenernya. Apalagi kalo mau nyari uang. Tapi bukan begitu caranya menghasilkan penulis, dari pengamatan dan pengalaman, aku menyimpulkan begitu. Dibayar berapapun, penulis gak bisa mencetak penulis lainnya. :D

    Yah, gitu lah. Hahahaaa....

    Setelah aku menarik diri dari riuh komunitas, lebih banyak membaca, menulis, jalan-jalan, bertemu orang-orang baru di real life (bukan cuma sosial media), aku sekarang ngerasa lebih lega, lebih kaya, lebih siap untuk menulis lebih banyak lagi. I step up my games!

    Karena ... yah, jalan penulis itu memang jalan sunyi. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini komentar bisa menyaingi isi artikelnya nih hahaha :D

      Hapus
  2. yang terpenting kita menulis untuk membagikan suatu ilmu kepada yg membuthkan .

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan berkomentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. Salam kenal. ^_^

Postingan populer dari blog ini

[Review Film Remaja Indonesia] Rompis : Sebuah Roman Picisan

  Review Film Rompis : Sebuah Roman Picisan   Tayang perdana tahun 2018 Durasi film : 1 jam 39 menit Pemain film : Arbani Yasiz, Adinda Azani, Umay Shahab, Cut Beby Tshabina Sutradara : Monty Tiwa Rating : 8/10 bintang  Nonton di Netflix

Sebuah Kado Istimewa Untuk Orang Spesial

Mengenal teman dari berbagai kalangan seringkali membuat saya harus mulai memahami mereka sebagai sebuah individu yang utuh. Bukan hanya sebuah nama tapi juga kepribadian. Ada yang sangat halus perasaannya hingga mudah menangis bahkan meski tak menonton film romantis melankolis. Ada yang sangat keras dengan prinsip hingga membuat orang yang berada di dekatnya harus mengerti saat ia mulai mengeluarkan statement tertentu. Ada yang sangat antipati dengan konflik hingga menganggap hingar bingar tak cocok baginya. Ada pula yang sangat lucu jika berceloteh hingga membuat teman di sekitarnya bisa tertawa hanya dengan mendengar ceritanya. Banyak karakter dengan spesifikasi yang berbeda membuat saya mengerti manusia diciptakan tak hanya 4 jenis saja, bahkan ada yang gabungan sifat dari melankolis koleris maupun sanguin plegmatis.

Sajak Gusmus Tentang Cinta

Sajak Cinta - Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya.. cinta romeo kepada juliet,si majnun qais kepada laila belum apa apa... temu pisah kita lebih bermakna dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha... rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam dan Hawa