Friday, 16 December 2016

Cinderella Syndrome

Cinderella Syndrome

Setiap orang punya luka masa lalu yang pastinya membuat titik balik dalam hidupnya. Ada yang dulu kesulitan dana untuk sekolah hingga bercita-cita untuk mengejar beasiswa hingga S3. Kalau S3 kurang dan ada yang lebih tinggi tingkatannya mungkin dia juga bakalan kejar semua itu. Ada lagi yang dulunya anak orang biasa, hidup dari hasil kerja orang tua yang berjibaku setiap hari. Lalu saat dewasa mulai memikirkan siapa yang akan jadi pendamping hidupnya. Kami bersahabat, tapi pemikiran kami berbeda.


Pertanyaan yang muncul saat ia bertanya pada saya bertahun-tahun yang lalu tentang apa kriteria calon saya, “Ila mau yang kayak apa? Ganteng, kaya, punya rumah atau mobil?” Lalu saya tersentak karena pemikiran saya dan dia sungguh berbeda. Saya lebih memilih orang berdasarkan karakternya, mudah nyambung berarti bikin saya nyaman, punya cita-cita yang setipe dengan saya jadi bakalan nyambung. Tapi pertanyaan dia akhirnya mengusik benak saya.

Ada apa dengan perempuan ini, kenapa dia terobsesi dengan calon yang tajir melintir hingga kalau bisa tujuh turunan? Barulah saya tahu bahwa ia memiliki luka masa lalu yang bisa saya memicunya untuk memilih jalan yang ia yakini jadi sumber kebahagiaan.

Kekayaan yang diinginkan, rumah yang menyenangkan, mobil yang mentereng. Sebuah kata-kata yang muncul darinya tentang kisah dongeng yang kerap dia baca saat kecil tentang pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya. Itu yang membuat saya terhenyak. Ah, iya. Ada obsesi terpendam ternyata, sesuatu yang baru saya tahu sekarang. Padahal dulu saya menganggap biasa saja.

Nggak ada yang salah dengan hidup berkecukupan dan mewah, tapi pertanyaan yang ini membuat saya bingung. Dulu, apa ia pernah merasa kecewa ketika orang tuanya tidak bisa memenuhi segalanya saat ia kecil? Saat orang tuanya hanya pekerja biasa yang tiap hari harus berjibaku menembus pekat malam? 

Pertanyaan ini yang membuat saya berpikir, apa benar cinderella syndrome itu benar-benar ada? Apa hanya segelintir orang yang mengalami karena kehidupan di masa lalunya yang ia balut dengan benteng cerita-cerita dongeng happily ever after? Apa benar sins setiap manusia berbeda dari 7 deadly sins? Pertanyaan ini ingin saya ajukan pada perempuan itu, tapi urung karena saya tahu, dia memiliki pemikiran sendiri yang tak bisa dipengaruhi oleh orang lain bahkan oleh sahabatnya sendiri.
#catatan random



No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. Salam kenal. ^_^